07 September 2009
Panik
Tahun ini, untuk kali yang kedua, kami kru WARTA LPM STAIN Potianak kembali mendapatkan kepercayaan dari panitia Orientasi Pengenalan Akademik (OPAK) 2009 untuk kembali meliput seluruh rangkaian kegiatan OPAK ’09 dari awal sampai akhir. Jadi selama lima hari, kami harus menerbitkan WARTA yang nantinya akan dibagikan kepada sekuruh peserta yang total berjumlah 405 orang.
Walaupun wartawan kami tampak masih canggung, maklum ini adalah liputan pertama mereka tanpa didampingi senior, setelah mereka dikukuhkan 26 April 2009 kemaren. Akan tetapi, mereka tampak bersemangat. Sangat bersemangat.
Hari pertama dan kedua dilewati dengan sukses. Warta sampai di tangan peserta tepat pada waktunya, yakni habis Dzuhur. Akan tetapi, tidak untuk hari yang ketiga.
“Bang Ari WARTA belum dicetak,” suara Kiki terdengar panik di seberang telfon. Kiki dan Ninda, hari itu mendapat tugas mengambil WARTA di percetakan, yang biasanya di handle oleh Ari dan Herianto.
Kami semua Romy, Ira, Iza, Ambar, Ari, Herianto (Lembu) dan aku yang saat itu sedang sibuk mengetik berita di kantor redaksi LPM, terkejut mendengar kabar dari Kiki barusan. Waktu itu, jam telah menunjukkan pukul 10.50 Wiba, seharusnya di jam segitu, WARTA sudah ada di Kantor redaksi dan siap dilipat dan diantar ke sekretariat BEM.
Ari langsung berinisiatif menelfon nomor Kiki. Tapi, tak sempat bicara, telfon langsung tulalit. Tak kehabisan akal, Ari kemudian kembali menghubungi nomor Ninda.
“Eh... ni hape Ninda... ditinggalkannye rupenye,” Ambar berkata sambil menujukkan hape butut type 2600 milik Ninda yang ternyata berada di tepi si kompi (komputer).
“Ya ampun, jadi gimanelah ne, hari dah siang dah ne, jam berape bise selesainye, kalo jam segini belum dicetak?,” ucapku.
Menurut informasi dari Kiki, Abah – orang yang selama ini kami percaya untuk mencetak WARTA dari sejak pagi telah keluar rumah, jadi Master serta kertas yang kami titipkan ke Putra Abah untuk percetakan, belum sampai di tangan laki-laki paruh baya tersebut dan yang lebih membuat kami panik adalah, Abah tidak membawa hape, jadi secara otomatis tidak bisa dihubungi sama sekali.
Kepanikan dan kekhawatiran begitu kuat terasa di kantor redaksi. Tambahan lagi, wartawan hari ini (Kamis) sedikit telat menyerahkan berita, belum lagi WARTA edisi khusus BEM, MPM, HMJ dan UKM belum selesai di layout. Aku sedikit pesimis untuk bisa menyelesaikan tugas hari itu. Namun, candaan dan tawa di kantor redaksi tak pernah berhenti, hal itu yang akhirnya memicu semangat para wartawan WARTA untuk terus melanjutkan tugas dan tanggungjawab hari itu.
Jam 14.25 Wiba Ari kembali menghubungi Abah, memastikan nasib WARTA selanjutnya. Kali ini alhamdulillah, Abah bisa dihubungi.
“Iye bah, klo jam tige atau empat gitu, boleh lah,” ucap Ari.
“Nong, jangan jam empatlah, jam tige jak,” protes Ambar.
“Iye, jam empat mane gak sempat, belom nak ngelipatnye agik,” sambutku.
“Ee.... masalah kecil bah, jangan nak dibesak-besakkan,” Heri memotong omelan kami, seperti biasa dengan gayanya yang cuek dan tatapan misteriusnya.
Tak ada yang berkomentar, menanggapi ucapan Heri barusan. Selanjutnya kami sibuk lagi dengan aktivitas masing-masing.
“Sape yang nak ngambil WARTA? Dah jam setengah empat ne?” Ambar mengingatkan.
Kantor redaksi kembali ribut untuk menentukan siapa yang bakal mengambil WARTA kali ini. Kiki dan Ninda yang tadinya dapat tugas itu, sedang mengetik berita, sedangkan wartawan lainnya tidak ada di tempat. Akhirnya sekali lagi Ari yang mengalah.
Setengah jam berikutnya, Ari datang membawa kardus warna hijau berisi tumpukan Warta. Kami yang saat itu masih memegang pekerjaan masing-masing segera berinsiatif melipat WARTA agar segera bisa diserahkan kepada panitia dan dibagikan ke peserta yang sebentar lagi bubar. Selanjutnya, kami benar-benar kerja gila, melipat Warta secepat-cepatnya supaya jangan sampai peserta pulang sebelum mendapatkan persembahan terbaik yang kami sajikan dengan hati yang penuh cinta....
Read More......
21 March 2009
"AKRAB" DULU, BARU KENALAN...
Kejadian ini terjadi hari Kamis kemaren, 19 Maret 2009. Tak seperti biasanya, hari itu saya mengendarai sepeda motor sendiri, tidak diantar. Karena sendiri, jadi saya memutuskan untuk pergi lebih awal. Sebelum jam tujuh, saya sudah berangkat. Dengan tak lupa memakai helm dan slayer untuk menutupi wajah. Walaupun masih pagi, namun udara di kota Pontianak tak lagi segar. Jumlah kendaraan yang semakin hari bertambah banyak, memberikan andil besar menciptakan polusi. Tak terhitung, berapa besar udara beracun yang kita hirup setiap harinya akibat dari asap-asap kendaraan itu. Belum lagi gas-gas beracun dari sember lainnya.... ah... jika ingat begitu, saya jadi pengin tinggal di kampung saja..
Pagi itu, kepala saya sedikit pusing. Maklum, malamnya saya bergadang sampai jam dua pagi, mengerjakan dua makalah sekaligus, plus satu buah laporan keuangan, yang harus dilaporkan siang nanti. Last minute, SKS, kejar tayang, ngebut, dan entah apalah istilah lainnya, untuk menyebut apa yang saya lakukan, yang jelas malam itu saya benar-benar lembur. Kebiasaan buruk memang. Saya menayadari itu dengan sesadar-sadarnya.
Tapi, walau saya tahu itu tak baik, tetap saja sangat sukar sekali untuk saya tinggalkan. Seorang sahabat, sering menegur kebiasaan tersebut. Namun, dengan berbagi alasan, saya selalu saja punya dalih untuk membela diri. Kadang saya juga jadi kewalahan sendiri, jika waktu semakin mepet. Apalagi bahan yang didapat belum mencukupi. Walau di kampus kami punya pepustakaan yang lumayan besar, namun jangan harap bisa mendapatkan apa yang kita cari dalam waktu singkat, apalagi kalau dalam keadaan buru-buru. Jika ingin mencari bahan di sana, paling tidak diperlukan waktu sedikitnya tiga hari, baru dapat sesuai harapan.
”Yun.... kite ni sebenarnye tak perlu berkeliling. Kite tinggal duduk jak di depan salah satu rak buku yang banyak tu. Satu rak jak!. Maka lihatlah apa yang bakal kite temui, di situ pasti ada buku Filsafat, buku Pendidikan, Ekonomi, Sastra, Tasawuf, Jurnalistik, mungkin juga buku-buku Motivasi dan buku-buku lainnya. Jadi tak perlu kite datang ke rak yang tepat, sesuai petunjuk yang ditempel di tiang tu....”. Kata saya beberapa waktu yang lalu, pada Yuni_teman satu kelas saya, saat kami kelelahan berkeliling selama satu jam, hanya untuk mencari satu bahan makalah saja.
”Nape pula gituk kak”. Tanyanya keheranan.
”Ye lah.... perpus kite ni kan unik. Tak macam perpus lain. Buku-buku di sini ni, pandai bergaul, die suke jalan-jalan ke rak sebelahnye. Kadang die lupa pulang”. Jawab saya. Yuni cuma tersenyum mesem mendengar ucapan tadi.
Saya terus memacu kendaraan dengan kecepatan sedang. Pagi seperti ini, biasanya banyak sekali pengendara motor yang ngebut tak tentu rudu. Dan jika buru-buru, bisa saja saya tak nyampai di kampus, tapi ke rumah sakit.
Di persimpangan Tanjung Raya, saya sedikit terpekik melihat pemandangan di depan. Keadaan jalan benar-benar tidak beraturan. Rambu lalu lintas/traffick light dan Polantas, tak lagi diperdulikan. Kendaraan bermotor, baik itu mobil pribadi, angkutan umum, truk, mobil kontainer dan sepeda motor, saling silang-menyilang untuk mendahului satu sama lain. Akibatnya, kemacetan panjang terjadi sampai kira-kira 500 meter.
Saya mulai resah melihat kondisi itu. Sejenak saya melirik ke jam digital di hape saya, menujukkan pukul 07.10. Saya cuma punya waktu 20 menit, lagi.
“Ya Allah, tolong ... saya tak mau telat…” guman saya dalam hati.
Semakin lama, jumlah kendaran semakin banyak. Saya terjebak di tengah-tengah mereka. Tak bisa maju, apalagi mundur. Dengan rem yang stand by di kaki dan tangan, saya terus berusaha menembus kemacetan itu. Saya tak boleh menyerah. Inilah perjuangan_yang Insya Allah akan berbuah manis nantinya.
Di sela-sela kekhawatiran, saya sempat melirik ke arah trotoar yang berada di sebelah kanan. Di sana, terlihat seorang gadis, ia mengenakan jilbab lebar warna krem, baju putih polos plus rok hitam_sedang melambai-lambai ke arah saya. Dari warna jaket almamater yang ia kenakan, saya bisa memastikan bahwa gadis tersebut pasti mahasiswa STAIN. Tapi siapa? Saya tidak bisa mengenalinya. Walaupun ragu, saya terus mengarahkan motor mendekatinya.
”Kak.... tunggu”. Kata gadis tersebut, dengan wajah sumringah, seperti baru saja menemukan seseorang yang telah lama ia cari.
Sayapun mengangguk, dan memberikan isyarat padanya agar segera naik ke motor. Tanpa berfikir panjang, iapun langsung duduk di belakang. Saya tetap saja tidak bisa mengingat siapa namanya? jurusan apa? dan pernah kenal di mana? bahkan saat kami sudah tak lagi terjebak macet (yang sampai hari ini tak saya ketahui penyebabnya) sekalipun, saya tetap tak mengenalinya. Untuk bertanya, saya rasa sangat tidak sopan. Dia_yang terlihat begitu akrab menyapa saya tadi, pasti akan sedikit tersinggung, jika tiba-tiba saya berkata seperti ini ”Maaf, adek siapa ya?. Atau ”Maaf, saye lupa, kita pernah kenalan di mana ya...?”. Ih.... walaupun perkataan itu (mungkin) sopan, tapi tetap saja akan menimbulkan kesan yang tidak mengenakkan untuknya, termasuk saya juga. Saya bisa merasakan, jika suatu saat, saya menyapa atau mengajak ngobrol seseorang yang saya yakin mengenalinya, sedangkan orang tersebut, cuma mengernyitkan dahi tanda kebingungan. Saya tak mau itu terjadi padanya. Pasti sangat memalukan!
Saya terus berfikit keras. ”Ya Allah, bantu saya.... siapa dia ya Allah...??”. doa saya dalam hati. Namun, sampai kami telah berada di persimpangan Flamboyan-Veteran- Gajah Mada, ingatan saya masih tetap saja tumpul. Saya tak menyerah. Lantas saya memutuskan untuk menyapanya saja, siapa tahu jika sudah ngobrol, saya akan ingat padanya.
”Tadi berangkat sama siapa? Kok bisa terdampar di trotoar si..” tanya saya sambil melepas slayer hitam yang menutupi wajah saya, lantas sedikit menoleh ke arahnya.
”Tadi tu... saye nunggu kawan kak. Cuma entah kenapa, dia ndak muncul-muncul”. Jawabnya terdengar agak canggung.
”O.... kakak kire tadi tu, naik oplet. Karena macet, jadi turun”. Kata saya kemudian.
”Tadak kak.....”. jawabnya singkat. Gadis itu tampak semakin canggung. Sikap akrab, yang tadi, tak lagi terlihat.
”Kok adek bise kenal ma kakak? Padahal, tadi kakak kan pake slayer, kaca helm juga ditutup”. Ujar saya sambil tersenyum ke arahnya.
”Itu lah die yang lucu tu kak, sebenarnye tadi saye tu ngire kakak ne kak Agus. Eh, pas saye naik, saye jadi heran sendiri, kok beda. Eh, ternyata saya salah orang”. Katanya lantas tertawa.
”Wai.... benarlah..??” Jawab saya kaget. Saya benar-benar tidak menduga hal itu.
”Iye kak.... kan kak Agus tu, suka ganti-ganti motor. Jadi saye tak heran, saat saye liat motor ”die” hari ni, beda lagi”.
”Ya ampuuun.... berarti tadi salah liat?”. sambil terus tertawa saya bertanya lagi padanya.
”Iye kak... udah lah ketawanye tu kak... malu saye ni... ”. Katanya. Tapi saya terus saja tertawa.
”Iye iye... bentar lagi lah ye berentinye... lucu ba...”. jawab saya.
”Eh, tapi... kakak kenal ndak ma kak Agus?”. tanyanya lagi.
”Agustina, yang anak Dakwah semester enam, tu kan? Kalau itu kakak kenal”. Jawab saya. Saya mengenali Agus, kami tergabung dalam salah satu organisasi intra kampus. Dulu, saat Musyawarah Besar (Mubes), kami pernah dipersaudarakan. Itu adalah trik senior, agar anggota baru dan lama, bisa akrab.
”Iye benar.... kak Agus itulah. Saye biase mang numpang ma die tu ”.
“O..... eh, tapi adek kenal nggak si ma kakak sebenarnye?“. Tanya saya kemudian. Akhirnya, saya punya kesempatan menanyakan hal itu..
“Tadak kak....“. jawabnya polos.
”Hahaha....... ”. Hanya itu yang terdengar kemudian. Saya benar-benar lega. Dalam hati saya bersyukur, berarti saya tak perlu merasa bersalah, karena tidak ingat siapa dia. Karena memang kami belum pernah kenal kok, bagaimana mau ingat.
Detik berikutnya kami berdua lantas kenalan. Ternyata gadis tersebut, bernama Salma. Ia kuliah di Jurusan Tarbiyah, PAI, semester II. Akan tetapi, yang membuat saya kembali tercengang dan kembali memikirkan lagi sikap ”cuek” saya selama ini adalah ternyata dia anggota LDK Matimsya, organisasi pertama yang saya ikuti saat saya berstatus mahasiswa. Selama ini, karena alasan aktif di UKM yang lain, saya jadi kurang silaturrahmi ke sana. Padahal, saya masuk dalam kepengurusan.
”Ya.... Allah..... segitu cueknya kah saya selama ini......”.
Read More......
Labels:
CERITAKU,
Refleksi Diri
11 March 2009
SAAT KEPALA SAYA JADI ADONAN.....
Hari Selasa, 10 Maret 2009, dengan penuh semangat saya berangkat ke kampus tercinta. Ini adalah hari pertama kami masuk kuliah, setelah libur akhir semester selama kurang lebih 1 bulan. Tak terasa, ternyata sekarang udah menginjak semester empat. Wuih, tak terbayang..... cuma sekitar empat semester ke depan *maunya si gitu...* saya udah tak berstatus mahasiswa lagi, mungkin jadi konselor sukses, penulis hebat, peneliti, atau malah mahasiswa S2 Psikologi.... (khayalan tingkat tinggi, mumpung mimpi masih gratis... ;-P).
Hati sudah sangat rindu dengan kampus. Satu bulan jadi ”ibu rumah tangga”, capek juga euy....
Pas nyampai di kampus, hanya beberapa orang saja yang sudah datang. Biasa, syndrome hari pertama kuliah, pasti banyak yang datang telat, bahkan banyak juga yang tidak datang sama sekali....
Menurut jadwal yang sudah tersebar, hari itu kami ada mata kuliah Filsafat Dakwah dan Psikologi Dakwah. Dan menurut jadwal juga, kami masuk jam 07.30 tepat. Namun, sampai jam di hape saya menunjuk angka 08.00, sama sekali tidak ada tanda-tanda yang mengisyaratkan akan datangnya dosen.
Tapi yah.... kami tetap asyik-asyik saja ngobrol, ’kan udah lama tak ketemu, jadi banyak cerita yang harus diceritakan bersama kawan-kawan di kelas.
Jam 08.20, saya mengeluarkan hape dari kocek. Eitt..... ada satu panggilan tak terjawab rupanya. Penasaran, saya periksa, kira-kira siapa orang yang menghubungi saya barusan.
Ternyata, panggilan tersebut dari pak Gito. Beliau adalah ketua Prodi BPI, yang mengampu mata kuliah Filsafat Dakwah, yang harusnya masuk jam 07.30 tadi.
Waduuh.... jadi nggak enak. Pasti tadi beliau bingung dan heran, kanapa mahasiswa yang disayangi beliau ini, tak mengangkat telfon..... ;-)
Tanpa fikir panjang, saya langsung mengirim SMS pada beliau, menanyakan perihal apa, sehingga beliau menghubungi saya, sekalian minta maap karena tak dengar suara hape tadi...
”Kak, janganlah sms, nelfon jak.... tak enaklah.....” ujar Fatmi, salah satu teman saya di kelas, yang selalu berpenampilan rapi itu.
”Eh, ape salahnye, tak pape be.... nanti kan, kalo mang benar-benar perlu, pasti bapak nelfon balik. Bapak kan sayang ma kakak, hehehe…..” jawab saya dengan lagak narsis, yang langsung disambut bibir monyong, dan terikan ”Huuuuuuu.....” secara kompak dari kawan-kawan.
”Assalamualaikum pak.... maaf, tadi hape saye jauh, jadi tak kedengaran. Ada apa ya pak?”. begitulah bunyi SMS yang saya kirimkan. (sopan gak sih?)
Tak lama, ada balasan dari Pak Gito.
”Waalaikumsalam. Hari ini Filsafat Dakwah belum masuk. Saya ada acara pembukaan pembekalan PPL. Maaf dan Terima kasih”
Saya langsung menyampaikan informasi tersebut di depan kelas. Kebanyakan mereka, tampak girang dengan info barusan. Yah, sekali lagi, ini adalah syndrome hari pertama kuliah, biasanya mahasiswa kebanyakan belum semangat belajar... (padahal, setelah kuliah aktifpun, kadang juga begitu....)
”Terus, bagaimane ne kak, kite pulang ke ndak? Kire-kire, Abah masuk ndak ye?” Haikal, sang ketua kelas, mengajukan pertanyaan.
Abah adalah panggilan kami semua untuk pak Dulhadi, ketua Jurusan Dakwah, yang juga mengampu semua mata kuliah yang berbau-bau Psikologi.
”Kaya’nye si, Abah pon tak masuk lah... pak Gito yang Ka-Prodi aja tak masuk, apalagi Ketua Jurusan” ujar saya diplomatis, seperti pengambil kebijakan di DPR sana. Banyak yang senang dengan keputusan tersebut, walaupun belom tentu itu benar.
Tak lama berselang, Sarpini, datang dari arah perpustakaan. Dia bukan dari perpus, tapi dari sampingnya, yakni kantin bu Karim, kantin kebangsaan anak STAIN.
O iya, Sarpini, jika dibaca sekilas dari namanya, banyak orang mengira itu nama cewek. Padahal, ia adalah seorang cowok tulen. Tak terhitung sudah, daftar dosen yang keliru, jika sedang mengabsen, pas manggil namanya, pandangan dosen tersebut pasti mengarah ke arah kami, kaum cantik-cantik di kelas. Padahal di pojok yang tak terlihat, Sarpini udah pegal-pegal mengangkat tangan, sejak bermenit-menit lamanya.
Sarpini tadi, datang sekonyong-konyong membawa sekantong benda_yang belakangan saya ketahui ternyat berisi telur dan tepung terigu satu kilo.
”Kak, kite ngerjekan Topan yuk.... ” ajak nya. Topan, salah satu penghuni kelas kami berulang tahun tepat hari itu. Awalnya saya setuju dengan usul itu, namun akhirnya, saya tidak jadi bergabung. Karena tiba-tiba, perasaan saya tak enak. Saya yakin tepung ma telur tersebut, tak hanya buat Topan, tapi juga (mungkin) buat saya. Bukan tanpa alasan saya berfikir seperti itu. Walaupun sudah lewat, dua hari sebelumnya, adalah hari ulang tahun saya.
Saya langsung 'melarikan' diri ke Jurusan. Rencananya setelah itu, mau langsung ke kantor redaksi, karena hari itu, berdasarkan kesepakatan, kami akan ada rapat redaksi untuk penerbitan Warta selanjutnya.
Namun, langkah saya terhenti, karena Erika, mendesak saya untuk menemaninya ke perpustakaan, mengembalikan buku. Walaupun sedikit curiga, tapi saya mau saja ikut dengannya.
Erika terus meyakinkan saya, bahwa tidak akan terjadi apa-apa.
Saya_dengan langkah yang maju mundur, mendekati kelas kami, yang terlihat sudah sangat berantakan, dengan pecahan telur dan taburan tepung di lantai. Rata-rata, tangan mereka yang ada di kelas memegang segenggam tepung.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, saya lihat Topan udah ”bonyok” dikerjai kawan-kawan.
Melihat saya di depan kelas, Sarpini melangkah mendekat. Saya langsung bisa membaca gelagat tidak beres tersebut. Dengan sekuat tenaga, saya pun lari. Namun, dia tak putus asa, dengan langkah kakinya yang pastinya sedikit lebar, karena dia pakai celana, dia terus mengejar.
Akhirnya saya benar-benar kelelahan. Sarpini makin dekat, dan saya pun harus pasrah, saat dia melempar telur tepat mengenai kepala saya.
Saya mau tidak mau, harus rela, menyaksikan jilbab hitam yang saya gunakan berlumur telur dan tepung. Dalam kondisi seperti ini, mana bisa saya protes, apalagi marah. Selanjutnya saya langsung ke WC, membersihkan jilbab yang sudah seperti adonan kue kering (tanpa resep) tersebut.
Saya mengira, bau amis telur akan segera hilang setelah dibersihkan dengan air. Rupanya, sebaliknyalah yang terjadi, bau yang bikin perut terasa dililit-lilit tersebut malah makin menjadi. Saya serasa sedang keramas dengan sampo yang terbuat dari kocokan telur. Kepala saya langsung puyeng, isi perut meronta-ronta dan terus mendesak untuk segera keluar. Syukur tak sampai semaput. Salah seorang mahasiswi yang kebetulan lewat, hanya terheran-heran, menyaksikan saya terhoek-hoek, sambil memegang perut. Mungkin dia mengira saya adalah ibu muda yang lagi ngidam kali... (Hayooo.... mana suaminya...Wkakakak.... )
Karena tak tahan, saya pun menghubungi Erika, mengajak ia pulang ke kost-an tempat ia tinggal, yang berada di belakang kampus, untuk mandi dan ganti baju. Saya tidak bisa langsung pulang, karena masih ada dua agenda yang menunggu di kampus. Karena tak bawa baju ganti, Erika pun dengan senang hati meminjamkan bajunya untuk saya pakai.
Pelajaran berharga yang saya dapat adalah, ide kurang baik, yang kita lontarkan untuk mengerjai orang lain, cepat atau lambat, itu hanya akan kembali pada diri kita sendiri. (sekarang saya mau buat pengakua: Sebenarnya yang pertama kali mengusung ide nengerjai tiap orang yang lagi ulang tahun di kelas kami, tercetus dari mulut saya sendiri..... Hihihihih....) Allah itu, memang maha adil kan?? Seperti kata Andrea Hirata dalam novel Edensor-nya, ”ALLAH TAHU, TAPI MENUNGGU!!”. Inilah yang saya dapat, dari ide konyol tersebut.
Terima kasih buat Allah, yang telah memberikan saya pelajaran berharga ini. Makasih juga buat semua keluarga, serta sahabat-sahabat terbaik saya semuanya, yang sudah begitu menyayangi saya, walaupun mungkin saya belum pantas mendapatkan itu.
Terakhir, boleh dong minta tips dari orang yang sudi baca tulisan ini, bagaimana cara menghilangkan bau amis sisa telur di pakaian dengan tuntas, tanpa meninggalkan jejaknya sedikitpun....??? makasih semuanya.....
Read More......
Labels:
CERITAKU,
Refleksi Diri
10 March 2009
SINGGAH DIRUMAH RASULULLAH *tayang ulang*
Dalam Rangka Maulidurrasul SAW
Segala puji bagi Allah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar. Sesibuk apapun kita hari ini, luangkanlah sedikit waktu, untuk sekedar ’mampir’ sebentar ke rumah satu-satunya sosok yang paling layak untuk dijadikan idola sepanjang masa, Rasulullah SAW.
Kita akan kembali keratusan tahun yang sudah berlalu. Yang di sana kita bisa ’bertamu’ bahkan ’bertemu’ dengan sang Kekasih Allah tersebut. Ini bukan bualan, karena kita akan mengunjungi beliau melalui huruf dan kalimat. Kita akan memasuki rumah beliau, memperhatikan tingkah laku beliau, mendengar perkataan beliau, lalu mencoba mencari perbandingan, dan mencoba mengikutinya, karena beliau memang layak ditiru.
Saat kita mengetuk pintu rumah beliau, lalu mengucap salam, perhatikan bagaimana cara beliau menyambut kedatangan kita. Kita pastinya disambut dengan wajah yang cerah, walaupun sebenarnya beliau sedang menghadapi beban besar. Lalu kita dipersilahkan duduk, diruang tamu yang sangat sederhana, tanpa perabotan apa-apa, dengan alas satu-satunya yang beliau miliki, itupun telah sobek di sana-sini. Lalu bandingkan dengan keadaan di rumah kita hari ini!
Beliau akan mengajak kita mendiskusikan hal-hal yang berkaitan dengan ilmu-ilmu yang bermanfaat. Saat kita tidak sengaja lalu membuka aib saudara kita sendiri, perhatikan bagaimana beliau menegur kita secara santun, dengan cara mengalihkan pembicaraan. Dengan begitu, kita jadi tahu, bahwa ada yang salah dari lisan kita, tapi tak sampai membuat kita tersinggung. Bandingkan dengan apa yang kita bicarakan di setiap kesempatan, dan saat pembicaraan itu telah ngelantur kemana-mana, apa yang kita lakukan?.
Saat jam makan siang telah sampai, perhatikan bagaimana beliau berusaha menyenangkan hati tamunya. Walaupun di dapur beliau saat itu, persedian makanan amat sedikit. Namun beliau tak mengeluh akan kedatangan kita di saat yang tidak tepat itu. Bahkan beliau menjamu kita layaknya tamu agung, walaupun dengan begitu, artinya beliau dan keluarganya harus menahan lapar. Lalu bandingkan dengan ketakutan kita pada kekurangan yang kita miliki sekarang, sehingga kadang membuat kita segan untuk sedikit membahagiakan orang lain!
Beberapa saat sebelum masuk waktu shalat, perhatikan bagaimana beliau telah sibuk mempersiapkan diri untuk bertemu dengan Sang Penguasa setiap makhluk, dengan penuh semangat, wajah berseri, dan dada berdebar antar bahagia dan takut, menanti perjumpaan dengan-Nya. Lalu bandingkan, dengan keadaan hati kita, saat panggilan itu datang!.
Saat shalat di mulai, perhatikan bagaimana beliau sangat manikmati apa yang beliau baca, perhatikan bagaimana saat beliau berdoa, sambil berurai air mata, memohon ampun seolah beliau adalah hamba yang paling berdosa. Padahal, Allah telah menjamin dosa-dosa beliau di masa lalu, sekarang dan masa depan telah Allah ampunkan. Lalu bandingkan dengan kesombongan kita, kualitas shalat dan nilai doa yang kita panjatkan!.
Saat malam menjelang, beliau akan mempersilahkan kita menggunakan selimut yang beliau miliki, dan itu bermakna, malam ini beliau akan tidur tanpa selimut. Kita akan tidur dengan nyenyak sekali. Dan saat kita terbangun tengah malam, kita akan mendapati tempat tidur beliau telah kosong, saat kita mencari kemana beliau saat itu, kita akan mendapati beliau sedang sujud, dan kembali berdoa dengan berurai air mata, memohon ampunan-Nya. Lalu bandingkan akhir dari malam-malam yang kita lalui di rumah kita!.
Saat pagi datang, beliau sambut dengan penuh semangat, dan bersyukur karena telah diberikan kesempatan satu hari lagi ada di muka bumi ini. Walaupun tugas berat telah menunggu, beliau siap menghadapinya dengan hati ikhlas, tanpa terdengar sedikitpun keluh kesah dari lisan mulia beliau. Terus, bandingkanlah dengan sikap kita setiap menghadapi hari baru bersama beban yang mengikutinya!.
Sekarang saatnya kita untuk pamit, kembali ke kehidupan kita hari ini. Setelah sehari berada di rumah yang penuh berkah tersebut, bandingkan semuanya dengan hidup kita hari ini. Kita yang kurang bersyukur, kurang menghargai orang di sekeliling kita, kita yang sering lalai, yang sombong dan kita yang banyak mengeluh menghadapi beban hidup. Apakah kita akan terus seperti itu, atau mulai hari ini, kita bangun suatu tekad, yakni bagaima seharusnya kita berfikir, bersikap, dan berbuat pada hari esok yang akan Allah percayakan pada kita untuk menghadapinya lagi.
Read More......
Labels:
Nabi Kita,
Refleksi Diri
Subscribe to:
Posts (Atom)








