free html visitor counters
Showing posts with label CERITAKU. Show all posts
Showing posts with label CERITAKU. Show all posts

21 March 2009

"AKRAB" DULU, BARU KENALAN...



Kejadian ini terjadi hari Kamis kemaren, 19 Maret 2009. Tak seperti biasanya, hari itu saya mengendarai sepeda motor sendiri, tidak diantar. Karena sendiri, jadi saya memutuskan untuk pergi lebih awal. Sebelum jam tujuh, saya sudah berangkat. Dengan tak lupa memakai helm dan slayer untuk menutupi wajah. Walaupun masih pagi, namun udara di kota Pontianak tak lagi segar. Jumlah kendaraan yang semakin hari bertambah banyak, memberikan andil besar menciptakan polusi. Tak terhitung, berapa besar udara beracun yang kita hirup setiap harinya akibat dari asap-asap kendaraan itu. Belum lagi gas-gas beracun dari sember lainnya.... ah... jika ingat begitu, saya jadi pengin tinggal di kampung saja..

Pagi itu, kepala saya sedikit pusing. Maklum, malamnya saya bergadang sampai jam dua pagi, mengerjakan dua makalah sekaligus, plus satu buah laporan keuangan, yang harus dilaporkan siang nanti. Last minute, SKS, kejar tayang, ngebut, dan entah apalah istilah lainnya, untuk menyebut apa yang saya lakukan, yang jelas malam itu saya benar-benar lembur. Kebiasaan buruk memang. Saya menayadari itu dengan sesadar-sadarnya.
Tapi, walau saya tahu itu tak baik, tetap saja sangat sukar sekali untuk saya tinggalkan. Seorang sahabat, sering menegur kebiasaan tersebut. Namun, dengan berbagi alasan, saya selalu saja punya dalih untuk membela diri. Kadang saya juga jadi kewalahan sendiri, jika waktu semakin mepet. Apalagi bahan yang didapat belum mencukupi. Walau di kampus kami punya pepustakaan yang lumayan besar, namun jangan harap bisa mendapatkan apa yang kita cari dalam waktu singkat, apalagi kalau dalam keadaan buru-buru. Jika ingin mencari bahan di sana, paling tidak diperlukan waktu sedikitnya tiga hari, baru dapat sesuai harapan.
”Yun.... kite ni sebenarnye tak perlu berkeliling. Kite tinggal duduk jak di depan salah satu rak buku yang banyak tu. Satu rak jak!. Maka lihatlah apa yang bakal kite temui, di situ pasti ada buku Filsafat, buku Pendidikan, Ekonomi, Sastra, Tasawuf, Jurnalistik, mungkin juga buku-buku Motivasi dan buku-buku lainnya. Jadi tak perlu kite datang ke rak yang tepat, sesuai petunjuk yang ditempel di tiang tu....”. Kata saya beberapa waktu yang lalu, pada Yuni_teman satu kelas saya, saat kami kelelahan berkeliling selama satu jam, hanya untuk mencari satu bahan makalah saja.
”Nape pula gituk kak”. Tanyanya keheranan.
”Ye lah.... perpus kite ni kan unik. Tak macam perpus lain. Buku-buku di sini ni, pandai bergaul, die suke jalan-jalan ke rak sebelahnye. Kadang die lupa pulang”. Jawab saya. Yuni cuma tersenyum mesem mendengar ucapan tadi.

Saya terus memacu kendaraan dengan kecepatan sedang. Pagi seperti ini, biasanya banyak sekali pengendara motor yang ngebut tak tentu rudu. Dan jika buru-buru, bisa saja saya tak nyampai di kampus, tapi ke rumah sakit.
Di persimpangan Tanjung Raya, saya sedikit terpekik melihat pemandangan di depan. Keadaan jalan benar-benar tidak beraturan. Rambu lalu lintas/traffick light dan Polantas, tak lagi diperdulikan. Kendaraan bermotor, baik itu mobil pribadi, angkutan umum, truk, mobil kontainer dan sepeda motor, saling silang-menyilang untuk mendahului satu sama lain. Akibatnya, kemacetan panjang terjadi sampai kira-kira 500 meter.
Saya mulai resah melihat kondisi itu. Sejenak saya melirik ke jam digital di hape saya, menujukkan pukul 07.10. Saya cuma punya waktu 20 menit, lagi.
“Ya Allah, tolong ... saya tak mau telat…” guman saya dalam hati.
Semakin lama, jumlah kendaran semakin banyak. Saya terjebak di tengah-tengah mereka. Tak bisa maju, apalagi mundur. Dengan rem yang stand by di kaki dan tangan, saya terus berusaha menembus kemacetan itu. Saya tak boleh menyerah. Inilah perjuangan_yang Insya Allah akan berbuah manis nantinya.
Di sela-sela kekhawatiran, saya sempat melirik ke arah trotoar yang berada di sebelah kanan. Di sana, terlihat seorang gadis, ia mengenakan jilbab lebar warna krem, baju putih polos plus rok hitam_sedang melambai-lambai ke arah saya. Dari warna jaket almamater yang ia kenakan, saya bisa memastikan bahwa gadis tersebut pasti mahasiswa STAIN. Tapi siapa? Saya tidak bisa mengenalinya. Walaupun ragu, saya terus mengarahkan motor mendekatinya.
”Kak.... tunggu”. Kata gadis tersebut, dengan wajah sumringah, seperti baru saja menemukan seseorang yang telah lama ia cari.
Sayapun mengangguk, dan memberikan isyarat padanya agar segera naik ke motor. Tanpa berfikir panjang, iapun langsung duduk di belakang. Saya tetap saja tidak bisa mengingat siapa namanya? jurusan apa? dan pernah kenal di mana? bahkan saat kami sudah tak lagi terjebak macet (yang sampai hari ini tak saya ketahui penyebabnya) sekalipun, saya tetap tak mengenalinya. Untuk bertanya, saya rasa sangat tidak sopan. Dia_yang terlihat begitu akrab menyapa saya tadi, pasti akan sedikit tersinggung, jika tiba-tiba saya berkata seperti ini ”Maaf, adek siapa ya?. Atau ”Maaf, saye lupa, kita pernah kenalan di mana ya...?”. Ih.... walaupun perkataan itu (mungkin) sopan, tapi tetap saja akan menimbulkan kesan yang tidak mengenakkan untuknya, termasuk saya juga. Saya bisa merasakan, jika suatu saat, saya menyapa atau mengajak ngobrol seseorang yang saya yakin mengenalinya, sedangkan orang tersebut, cuma mengernyitkan dahi tanda kebingungan. Saya tak mau itu terjadi padanya. Pasti sangat memalukan!
Saya terus berfikit keras. ”Ya Allah, bantu saya.... siapa dia ya Allah...??”. doa saya dalam hati. Namun, sampai kami telah berada di persimpangan Flamboyan-Veteran- Gajah Mada, ingatan saya masih tetap saja tumpul. Saya tak menyerah. Lantas saya memutuskan untuk menyapanya saja, siapa tahu jika sudah ngobrol, saya akan ingat padanya.
”Tadi berangkat sama siapa? Kok bisa terdampar di trotoar si..” tanya saya sambil melepas slayer hitam yang menutupi wajah saya, lantas sedikit menoleh ke arahnya.
”Tadi tu... saye nunggu kawan kak. Cuma entah kenapa, dia ndak muncul-muncul”. Jawabnya terdengar agak canggung.
”O.... kakak kire tadi tu, naik oplet. Karena macet, jadi turun”. Kata saya kemudian.
”Tadak kak.....”. jawabnya singkat. Gadis itu tampak semakin canggung. Sikap akrab, yang tadi, tak lagi terlihat.
”Kok adek bise kenal ma kakak? Padahal, tadi kakak kan pake slayer, kaca helm juga ditutup”. Ujar saya sambil tersenyum ke arahnya.
”Itu lah die yang lucu tu kak, sebenarnye tadi saye tu ngire kakak ne kak Agus. Eh, pas saye naik, saye jadi heran sendiri, kok beda. Eh, ternyata saya salah orang”. Katanya lantas tertawa.
”Wai.... benarlah..??” Jawab saya kaget. Saya benar-benar tidak menduga hal itu.
”Iye kak.... kan kak Agus tu, suka ganti-ganti motor. Jadi saye tak heran, saat saye liat motor ”die” hari ni, beda lagi”.
”Ya ampuuun.... berarti tadi salah liat?”. sambil terus tertawa saya bertanya lagi padanya.
”Iye kak... udah lah ketawanye tu kak... malu saye ni... ”. Katanya. Tapi saya terus saja tertawa.
”Iye iye... bentar lagi lah ye berentinye... lucu ba...”. jawab saya.
”Eh, tapi... kakak kenal ndak ma kak Agus?”. tanyanya lagi.
”Agustina, yang anak Dakwah semester enam, tu kan? Kalau itu kakak kenal”. Jawab saya. Saya mengenali Agus, kami tergabung dalam salah satu organisasi intra kampus. Dulu, saat Musyawarah Besar (Mubes), kami pernah dipersaudarakan. Itu adalah trik senior, agar anggota baru dan lama, bisa akrab.
”Iye benar.... kak Agus itulah. Saye biase mang numpang ma die tu ”.
“O..... eh, tapi adek kenal nggak si ma kakak sebenarnye?“. Tanya saya kemudian. Akhirnya, saya punya kesempatan menanyakan hal itu..
“Tadak kak....“. jawabnya polos.
”Hahaha....... ”. Hanya itu yang terdengar kemudian. Saya benar-benar lega. Dalam hati saya bersyukur, berarti saya tak perlu merasa bersalah, karena tidak ingat siapa dia. Karena memang kami belum pernah kenal kok, bagaimana mau ingat.
Detik berikutnya kami berdua lantas kenalan. Ternyata gadis tersebut, bernama Salma. Ia kuliah di Jurusan Tarbiyah, PAI, semester II. Akan tetapi, yang membuat saya kembali tercengang dan kembali memikirkan lagi sikap ”cuek” saya selama ini adalah ternyata dia anggota LDK Matimsya, organisasi pertama yang saya ikuti saat saya berstatus mahasiswa. Selama ini, karena alasan aktif di UKM yang lain, saya jadi kurang silaturrahmi ke sana. Padahal, saya masuk dalam kepengurusan.
”Ya.... Allah..... segitu cueknya kah saya selama ini......”.

Read More......

11 March 2009

SAAT KEPALA SAYA JADI ADONAN.....



Hari Selasa, 10 Maret 2009, dengan penuh semangat saya berangkat ke kampus tercinta. Ini adalah hari pertama kami masuk kuliah, setelah libur akhir semester selama kurang lebih 1 bulan. Tak terasa, ternyata sekarang udah menginjak semester empat. Wuih, tak terbayang..... cuma sekitar empat semester ke depan *maunya si gitu...* saya udah tak berstatus mahasiswa lagi, mungkin jadi konselor sukses, penulis hebat, peneliti, atau malah mahasiswa S2 Psikologi.... (khayalan tingkat tinggi, mumpung mimpi masih gratis... ;-P).


Hati sudah sangat rindu dengan kampus. Satu bulan jadi ”ibu rumah tangga”, capek juga euy....
Pas nyampai di kampus, hanya beberapa orang saja yang sudah datang. Biasa, syndrome hari pertama kuliah, pasti banyak yang datang telat, bahkan banyak juga yang tidak datang sama sekali....
Menurut jadwal yang sudah tersebar, hari itu kami ada mata kuliah Filsafat Dakwah dan Psikologi Dakwah. Dan menurut jadwal juga, kami masuk jam 07.30 tepat. Namun, sampai jam di hape saya menunjuk angka 08.00, sama sekali tidak ada tanda-tanda yang mengisyaratkan akan datangnya dosen.
Tapi yah.... kami tetap asyik-asyik saja ngobrol, ’kan udah lama tak ketemu, jadi banyak cerita yang harus diceritakan bersama kawan-kawan di kelas.
Jam 08.20, saya mengeluarkan hape dari kocek. Eitt..... ada satu panggilan tak terjawab rupanya. Penasaran, saya periksa, kira-kira siapa orang yang menghubungi saya barusan.
Ternyata, panggilan tersebut dari pak Gito. Beliau adalah ketua Prodi BPI, yang mengampu mata kuliah Filsafat Dakwah, yang harusnya masuk jam 07.30 tadi.
Waduuh.... jadi nggak enak. Pasti tadi beliau bingung dan heran, kanapa mahasiswa yang disayangi beliau ini, tak mengangkat telfon..... ;-)
Tanpa fikir panjang, saya langsung mengirim SMS pada beliau, menanyakan perihal apa, sehingga beliau menghubungi saya, sekalian minta maap karena tak dengar suara hape tadi...

”Kak, janganlah sms, nelfon jak.... tak enaklah.....” ujar Fatmi, salah satu teman saya di kelas, yang selalu berpenampilan rapi itu.

”Eh, ape salahnye, tak pape be.... nanti kan, kalo mang benar-benar perlu, pasti bapak nelfon balik. Bapak kan sayang ma kakak, hehehe…..” jawab saya dengan lagak narsis, yang langsung disambut bibir monyong, dan terikan ”Huuuuuuu.....” secara kompak dari kawan-kawan.

”Assalamualaikum pak.... maaf, tadi hape saye jauh, jadi tak kedengaran. Ada apa ya pak?”. begitulah bunyi SMS yang saya kirimkan. (sopan gak sih?)
Tak lama, ada balasan dari Pak Gito.

”Waalaikumsalam. Hari ini Filsafat Dakwah belum masuk. Saya ada acara pembukaan pembekalan PPL. Maaf dan Terima kasih”

Saya langsung menyampaikan informasi tersebut di depan kelas. Kebanyakan mereka, tampak girang dengan info barusan. Yah, sekali lagi, ini adalah syndrome hari pertama kuliah, biasanya mahasiswa kebanyakan belum semangat belajar... (padahal, setelah kuliah aktifpun, kadang juga begitu....)

”Terus, bagaimane ne kak, kite pulang ke ndak? Kire-kire, Abah masuk ndak ye?” Haikal, sang ketua kelas, mengajukan pertanyaan.
Abah adalah panggilan kami semua untuk pak Dulhadi, ketua Jurusan Dakwah, yang juga mengampu semua mata kuliah yang berbau-bau Psikologi.

”Kaya’nye si, Abah pon tak masuk lah... pak Gito yang Ka-Prodi aja tak masuk, apalagi Ketua Jurusan” ujar saya diplomatis, seperti pengambil kebijakan di DPR sana. Banyak yang senang dengan keputusan tersebut, walaupun belom tentu itu benar.

Tak lama berselang, Sarpini, datang dari arah perpustakaan. Dia bukan dari perpus, tapi dari sampingnya, yakni kantin bu Karim, kantin kebangsaan anak STAIN.
O iya, Sarpini, jika dibaca sekilas dari namanya, banyak orang mengira itu nama cewek. Padahal, ia adalah seorang cowok tulen. Tak terhitung sudah, daftar dosen yang keliru, jika sedang mengabsen, pas manggil namanya, pandangan dosen tersebut pasti mengarah ke arah kami, kaum cantik-cantik di kelas. Padahal di pojok yang tak terlihat, Sarpini udah pegal-pegal mengangkat tangan, sejak bermenit-menit lamanya.
Sarpini tadi, datang sekonyong-konyong membawa sekantong benda_yang belakangan saya ketahui ternyat berisi telur dan tepung terigu satu kilo.

”Kak, kite ngerjekan Topan yuk.... ” ajak nya. Topan, salah satu penghuni kelas kami berulang tahun tepat hari itu. Awalnya saya setuju dengan usul itu, namun akhirnya, saya tidak jadi bergabung. Karena tiba-tiba, perasaan saya tak enak. Saya yakin tepung ma telur tersebut, tak hanya buat Topan, tapi juga (mungkin) buat saya. Bukan tanpa alasan saya berfikir seperti itu. Walaupun sudah lewat, dua hari sebelumnya, adalah hari ulang tahun saya.
Saya langsung 'melarikan' diri ke Jurusan. Rencananya setelah itu, mau langsung ke kantor redaksi, karena hari itu, berdasarkan kesepakatan, kami akan ada rapat redaksi untuk penerbitan Warta selanjutnya.
Namun, langkah saya terhenti, karena Erika, mendesak saya untuk menemaninya ke perpustakaan, mengembalikan buku. Walaupun sedikit curiga, tapi saya mau saja ikut dengannya.
Erika terus meyakinkan saya, bahwa tidak akan terjadi apa-apa.
Saya_dengan langkah yang maju mundur, mendekati kelas kami, yang terlihat sudah sangat berantakan, dengan pecahan telur dan taburan tepung di lantai. Rata-rata, tangan mereka yang ada di kelas memegang segenggam tepung.
Dari jarak yang tidak terlalu jauh, saya lihat Topan udah ”bonyok” dikerjai kawan-kawan.
Melihat saya di depan kelas, Sarpini melangkah mendekat. Saya langsung bisa membaca gelagat tidak beres tersebut. Dengan sekuat tenaga, saya pun lari. Namun, dia tak putus asa, dengan langkah kakinya yang pastinya sedikit lebar, karena dia pakai celana, dia terus mengejar.
Akhirnya saya benar-benar kelelahan. Sarpini makin dekat, dan saya pun harus pasrah, saat dia melempar telur tepat mengenai kepala saya.
Saya mau tidak mau, harus rela, menyaksikan jilbab hitam yang saya gunakan berlumur telur dan tepung. Dalam kondisi seperti ini, mana bisa saya protes, apalagi marah. Selanjutnya saya langsung ke WC, membersihkan jilbab yang sudah seperti adonan kue kering (tanpa resep) tersebut.
Saya mengira, bau amis telur akan segera hilang setelah dibersihkan dengan air. Rupanya, sebaliknyalah yang terjadi, bau yang bikin perut terasa dililit-lilit tersebut malah makin menjadi. Saya serasa sedang keramas dengan sampo yang terbuat dari kocokan telur. Kepala saya langsung puyeng, isi perut meronta-ronta dan terus mendesak untuk segera keluar. Syukur tak sampai semaput. Salah seorang mahasiswi yang kebetulan lewat, hanya terheran-heran, menyaksikan saya terhoek-hoek, sambil memegang perut. Mungkin dia mengira saya adalah ibu muda yang lagi ngidam kali... (Hayooo.... mana suaminya...Wkakakak.... )
Karena tak tahan, saya pun menghubungi Erika, mengajak ia pulang ke kost-an tempat ia tinggal, yang berada di belakang kampus, untuk mandi dan ganti baju. Saya tidak bisa langsung pulang, karena masih ada dua agenda yang menunggu di kampus. Karena tak bawa baju ganti, Erika pun dengan senang hati meminjamkan bajunya untuk saya pakai.

Pelajaran berharga yang saya dapat adalah, ide kurang baik, yang kita lontarkan untuk mengerjai orang lain, cepat atau lambat, itu hanya akan kembali pada diri kita sendiri. (sekarang saya mau buat pengakua: Sebenarnya yang pertama kali mengusung ide nengerjai tiap orang yang lagi ulang tahun di kelas kami, tercetus dari mulut saya sendiri..... Hihihihih....) Allah itu, memang maha adil kan?? Seperti kata Andrea Hirata dalam novel Edensor-nya, ”ALLAH TAHU, TAPI MENUNGGU!!”. Inilah yang saya dapat, dari ide konyol tersebut.

Terima kasih buat Allah, yang telah memberikan saya pelajaran berharga ini. Makasih juga buat semua keluarga, serta sahabat-sahabat terbaik saya semuanya, yang sudah begitu menyayangi saya, walaupun mungkin saya belum pantas mendapatkan itu.

Terakhir, boleh dong minta tips dari orang yang sudi baca tulisan ini, bagaimana cara menghilangkan bau amis sisa telur di pakaian dengan tuntas, tanpa meninggalkan jejaknya sedikitpun....??? makasih semuanya.....

Read More......

16 January 2009

AKHIRNYA…..



Dan akhirnya hari minggu, tanggal 11 Januari 2009, Pukul 09.45 saya berhasil menyelesaikan membaca buku Maryamah Karpov, karya penulis penomenal, Andrea Hirata. Seperti ketiga buku sebelumnya, buku Maryamah Karpov ini adalah buku yang menurut saya, sangat hebat!!.

Hampir dua minggu, ya… dua minggu, buku tersebut selalu menyertai ke manapun saya pergi. Satu haripun, saya tak berniat meninggalkannya sendirian di rumah. Sebenarnya, dua minggu adalah waktu yang sangat lama, untuk membaca sebuah buku. Biasanya, untuk buku-buku cerita seperti itu, saya hanya membutuhkan waktu paling tidak tiga hari. Tapi… ya itulah yang terjadi

Dalam minggu-minggu terakhir ini, saya memang agak sedikit sibuk. Tugas-tugas kuliah yang sedikit menumpuk, hafalan, tugas liputan, belum lagi persiapan untuk menghadapi ujian akhir. Banyak menyita waktu dan tenaga. Selain itu, dalam waktu yang hampir bersamaan, saya juga masuk dalam kepanitiaan kegiatan tiga organisasi intra kampus, sekaligus.

Organisasi tersebut yakni HMJ (himpunan mahasiswa jurusan) Dakwah yang akan mengadakan kegiatan training Manajemen Diri, yang disingkat Trendy. Kegiatan tersebut akan diadakan pada tanggal 24 Januari mendatang. Training tersebut, dibuka untuk semua pelajar dan mahasiswa se-kota Pontianak, jadi jika ada yang berminat, silakan mendaftar. (Sedikit promosi, he..he….)

Kegiatan yang kedua, yakni kegiatan Mubes (musyawarah besar) LDK Matimsya, yang akan diadakan pada tanggal 20 sampai 24 Januari mendatang. Terus, kegiatan yang ketiga yakni kegiatan Pelatihan Jurnalistik Dasar, yang akan diadakan oleh LPM (lembaga pers mahasiswa) STAIN Pontianak. Yang juga akan dilaksanakan pada bulan ini. Benar-benar rutinitas yang membuat saya keteteran, namun bahagia lahir batin, karena merasa menjadi orang penting (narsis dikit lah, he he…)

Jadi begitulah, dengan perjuangan yang keras, sampai titik peluh penghabisan, sempat ditagih berkali-kali sama yang empunya buku, karena batas kadaluarsa peminjaman udah lewat satu minggu, (bukunya masih minjam, belum mampu beli, mahhhalll….!!) akhirnya selesai juga saya baca buku itu. Membaca buku itu, udah membuat saya jungkir balik, kadang-kadang ketawa sendiri, trus nangis juga sendiri (kerena saya memang sering sendirian di rumah), apalagi saat detik-detik terakhir, saya sampai tak sempat sarapan, tak sempat beres-beres rumah, (sampe rumah mirip kapal selam yang kesasar di atas gunung…), tak sempat ngerumpi, dan tak sempat mandi juga… he he.. (sebenarnya, ini tidak sempat, atau malas yaaa…???)

Tapi, saya tak menyesal dengan ketidaksempatan-ketidaksempatan tersebut di atas, karena banyak hal yang menjadi pelajaran berharga yang saya dapat dari buku setebal 504 halaman tersebut.

Setiap kata-kata yang Ikal (panggilan Andrea Hirata) tuliskan, mampu membangkitkan semangat. Persahabatanya dengan anggota Laskar Pelangi, yang tak pernah terputus oleh jarak dan waktu, walaupum mereka (Mahar, Lintang, A Kiong, Sahara, Sahdan, Trapani, Harun, Samson, dan Flo) sudah memiliki kehidupan masing-masing, tapi mereka tak pernah melupakan dan meninggalkan satu sama lain. Mereka tetap menjadi satu kesatuan, dan tak pernah terputuskan. Sungguh sangat menggungah.

Keteguhan seorang Ikal, dalam mencari cintanya, A Ling, yang telah seumur hidup dicarinya. Sampai-sampai ia menjelajah Eropa, dengan berjalan kaki, hanya untuk melihat dan bertemu dengan A Ling, walaupun hanya sekali, (yang ia ungkapakan dalam buku ketiganya Edensor). Sampai akhirnya ia benar-benar bertemu dengan cintanya, di pulau Kuburan. Yang untuk mencapai pulau tersebut, ia harus berunding dengan Tuk Buyan Tula, yang terkenal dengan tokoh mistik, yang banyak disegani orang-orang karena kesaktiannya. Ikal juga harus berjuang menghadapi para lanun-lanun yang dia bahasakan dengan manusia yang “sudah tak punya hati” saking kejamnya.

Di tengah perjuangan dan perasaan yang hampir putus asa, akhirnya Ikal juga menelan madu, yang sangat manis, buah dari perjuangan kerasnya. Dan pertemuan nan romantis tersebut ia tuliskan begini:

“Orang-orang sakit itu tidur di atas dipan yang saling berjauhan. Mereka berwajah Melayu dan Tionghoa. Tak satu pun kukenali. Namun, di dipan paling ujung aku terkejut melihat seseorang yang berbaring membelakangiku. Tubuhnya tinggi dan kurus. Ia berpakaian panjang dan berlapi-lapis. Aku terkesiap melihat tangannya yang terjuntai di sisi dipan. Firasat yang aneh menyelinap dalam hatiku. Kudekatkan lampu minyak untuk melihat tangan itu dan jantungku berdetak. Rasanya aku mengenali jari-jemari itu. Aku berusaha meyakinkan diri. Dulu pernah kukenal paras-paras kuku itu. Tak mungkin kulupa. Siapakah perempuan ini? Mungkinkah ia A Ling? Aku mengamatinya baik-baik. Seribu kata ingin meledak, tapi mulutku kelu. Tanganku ingin menggapainya, tapi sendi-sendiku mati. Ia terbangun, berbalik, dan dan aku terempas di atas lututku. Ia terpana menatapku, seakan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Ia berusaha bangkit, tapi terlalu lemah. Air mata mengumpul di pelupuknya. Aku bergetar, seluruh seluruh tubuhku bergetar waktu ia menyebut namaku.
“Ikal…,” katanya.”

Dan yang paling membuat saya begitu terkesan, bagaimana perjuangan Ikal untuk menggapai mimpi yang telah ia patrikan di dalam hatinya. Bagaimana kekuatan sebuah mimpi, akan mampu membuat sesuatu hal besar yang bahkan tak pernah terfikir sedikitpun sebelumnya. Ia rela dicemooh, ia kerjakan hal yang tak lazim, ia korbankan semuanya, waktu, tenaga dan fikiran. Bahkan juga mempertaruhkan nyawanya demi sebuah keinginan kuat yang menjadi obsesinya. Dia melukiskan sebuah pesan:

“Ku beritahu satu rahasia padamu, Kawan
Buah paling manis dari berani bermimpi
Adalah kejadian-kejadian menakjubkan
Dalam perjalanan menggapainya”.





Ikal berani bermimpi setinggi bintang kejora. Dan untuk mewujudkan hal tersebut, ia berjuang dengan totalitas. Membaca kisah Ikal, Saya jadi membandingkan dengan keadaan diri sendiri. Saya, seumur hidup, hanya berani bermimipi tentang sesuatu yang sangat sederhana. Dan itupun dipenuhi dengan perasaan pesimistik, akan ketidakmampuan saya untuk mencapainya.

Lain lagi dengan kekuatan persahabatan mereka. Padahal, saya juga punya sahabat-sahabat yang tak kalah hebatnya dengan anggota Laskar Pelangi. Sahabat-sahabat saya di LPM, adalah wartawan-wartawan yang tangguh dan handal. Pak Yusriadi, motivator utama kami, yang tak pernah bosan memberikan “ceramahnya” untuk mengajak kami agar tak pernah berhenti berkarya. . Sahabat di kelas BPI ’07. Ikhwan dan akhwat di LDK Matimsya, adalah saudara yang teguh dan solider. Teman-teman di HMJ dakwah, adik-adik di kos-kosan, mereka semua adalah orang-orang hebat. Saya di kelilingi oleh orang-orang yang luar biasa. Namun saya…. Bahkan untuk bermimpi saja, saya masih sangat takut. Apalagi untuk berjuang seperti Ikal.
Read More......

Chat with Me

TENTANG SAYA

My Photo
MARISA SYAKIRIN
SILATRAHMI MEMBUAT KITA BISA HIDUP DIMANAPUN DAN KAPANPUN
View my complete profile

OBROLAN KITA